Apa Itu W3 Total Cache, Fitur, Dan Cara Instalasinya

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Kalian sudah tahukah bahwa W3 Total Cache adalah sebuah plugin caching WordPress nan berfaedah meningkatkan keahlian dan optimasi website? Bentar, jika tetap ada nan belum mengerti sama sekali mengenai W3 Total Cache, kalian simak selengkapnya saja yuk mengenai Apa Itu W3 Total Cache, Fitur, dan Cara Instalasinya 

Apa Itu W3 Total Cache?

W3 Total Cache adalah plugin WordPress nan berfaedah mengoptimalkan keahlian website melalui teknik caching. Plugin ini membantu meningkatkan kecepatan loading website dengan meminimalkan jumlah permintaan sumber daya nan kudu diproses oleh server.

Plugin ini pertama kali dibuat oleh Frederick Townes, CTO dan Senior Technical Advisor Mashable. Lalu dimaintain dan didukung oleh agensi milik Frederick, W3 Edge. Sampai saat ini, W3 Total Cache telah digunakan oleh 1.049.955 website nan aktif. 

Data tersebut menunjukkan bahwa plugin ini sangat terkenal dan banyak digunakan oleh developer website WordPress di seluruh dunia, termasuk 6.074 website di Indonesia dan menjadikannya sebagai salah satu plugin paling banyak digunakan di WordPress Plugin Directory. 

Plugin cache mempunyai 16 laman opsi konfigurasi sehingga pengguna dapat menentukan solusi caching apa nan dibutuhkan dan mengatur plugin ini sesuai dengan kebutuhan mereka. 

W3TC mengoptimalkan sumber daya HTML, CSS, dan JavaScript dengan meminimalkan, mengkombinasikan, dan mengompresnya. Selain itu, W3TC juga menciptakan dan menyimpan sumber daya website tetap untuk mengurangi beban di server dan mempercepat pengiriman website. Hal itulah nan akhirnya dapat membantu website dalam mempercepat loading halaman web.

Fitur W3 Total Cache

Plugin W3 Total Cache menawarkan beragam fitur utama nan dapat membantu dalam mengoptimalkan keahlian website dari segi caching, antara lain:

1. Caching

Plugin W3 Total Cache membikin salinan HTML tetap nan disimpan di server. Saat visitor pertama kali mengakses halaman, WordPress kudu membangun laman secara bergerak dari database dan sebagainya ini butuh banyak sumber daya server. 

Namun, untuk visitor berikutnya nan mengakses laman nan sama, plugin akan mengirimkan salinan HTML nan sudah dibuat sebelumnya. Hal ini lebih sigap daripada membangun laman bergerak dari awal. Makanya bakal mengurangi beban server dan mempercepat waktu pemuatan halaman.

2. Minifikasi

W3 Total Cache dapat meminimalkan ukuran file CSS, JavaScript, dan HTML dengan menghapus karakter nan tidak perlu, seperti spasi, komentar, dan tanda baca nan tidak dibutuhkan. 

Proses ini dikenal sebagai minifikasi, nan memperkecil ukuran file sehingga dapat ditransfer lebih sigap dari server ke browser pengunjung. Semakin mini ukuran file maka semakin sigap waktu pemuatan laman website.

3. Integrasi dengan Content Delivery Network (CDN)

Layanan Content Delivery Network (CDN) menyimpan salinan file-file website di beragam server di seluruh dunia. 

Dengan mengintegrasikan W3 Total Cache dengan CDN, file-file website dapat dikirimkan dari server terdekat dengan letak pengunjung, mengurangi jarak dan waktu tunda (latency) dalam pengiriman data. Integrasi dengan CDN sangat membantu meningkatkan kecepatan akses website bagi visitor dari letak geografis nan berbeda-beda.

4. Database Caching

Setiap kali laman web dimuat, WordPress perlu melakukan query ke database untuk mengambil konten nan dibutuhkan. 

W3 Total Cache menyediakan opsi untuk menyimpan hasil query database dalam cache sehingga query yang sama tidak perlu dijalankan lagi untuk permintaan berikutnya. Hal tersebut dapat mengurangi beban pada server database dan mempercepat waktu pemuatan laman lantaran info dapat diambil langsung dari cache yang ada di memori server web.

Cara Instalasi W3 Total Cache

Berikut ini langkah instalasi W3 Total Cache pada WordPres.

1. Login WordPress

Pertama, silakan login ke dashboard WordPress nan bakal dipasang plugin W3 Total Cache. Masukkan username dan password akun WordPress kalian.

2. Tambahkan Plugin W3 Total Cache

Setelah itu, silakan tambahkan plugin W3 Total Cache pada WordPress dengan langkah pilih Plugins => Add New

3. Install Plugin W3 Total Cache

Setelah muncul tampilan di bawah ini, lakukan pencarian plugin W3 Total Cache. Jika sudah, klik tombol Install Now.

Setelah di install, klik Activate untuk memulai aktivasi plugin.

4. Aktifkan Fitur Cache

Setelah instalasi W3 Total Cache berhasil, kalian bakal menemukan menu Performance pada sidebar sebelah kiri. Plugin ini menawarkan beragam fitur caching namun tiga fitur utama nan perlu diaktifkan adalah Database Cache, Object Cache, dan Page Cache.

Berikut ini langkah-langkah mengaktifkannya:

  • Klik menu Performance lalu pilih General Settings.
  • Cari bagian Page Cache dan centang opsi Enable
  • Pada Page Cache Method, pilih Memcached.
  • Setelah selesai, klik tombol “Save all settings”.

Setelah itu, silakan scroll ke bawah hingga menemukan bagian Object Cache dan Database Cache, lampau ubah pengaturannya seperti pada Page Cache dengan memilih Memcached sebagai metode caching.

Memcached adalah sistem caching yang dapat mempercepat waktu pemuatan laman dengan menyimpan salinan laman dalam memori.

5. Kelola database cache

Salah satu fitur utama W3 Total Cache adalah kemampuannya untuk meringankan beban pada database melalui teknik caching. Nah, dengan menggunakan Database Cache, kalian dapat meningkatkan performa website secara signifikan. Berikut ini langkah mengoptimalkannya:

  • Klik menu Performance kemudian pilih sub-menu Database Cache.
  • Pada bagian Memcached hostname:port/IP:port:, masukkan alamat URL alias IP beserta nomor port nan digunakan untuk menjalankan jasa Memcached pada server kalian.
  • Klik tombol Test untuk memverifikasi hubungan antara W3 Total Cache dengan Memcached.
  • Jika muncul pesan Test Passed dengan warna hijau, artinya Database Cache sukses terhubung dengan Memcached.
  • Klik tombol Save all settings agar pengaturan tersimpan.

Dengan mengintegrasikan Database Cache dengan Memcached, W3 Total Cache bakal menyimpan hasil query database dalam cache sistem. Saat visitor mengakses laman nan butuh info dari database, plugin akan mengambil info dari cache dulu daripada melakukan query langsung ke database. 

6. Kelola page cache dan W3 Total Cache

Selanjutnya kalian juga perlu mengaktifkan fitur page cache melalui langkah-langkah berikut ini:

  • Klik menu Performance => Page Cache
  • Pada bagian Memcached hostname:port /IP:port, masukkan URL nan ditampilkan saat menjalankan Memcached sebelumnya.
  • Klik tombol Test untuk memverifikasi koneksi.
  • Jika muncul pesan Test Passed  dengan warna hijau, artinya Page Cache sukses diaktifkan.
  • Klik tombol Save all settings agar pengaturan tersimpan.

7. Kelola object cache

Object cache berfaedah untuk menyimpan info objek seperti hasil query database dalam memori sementara agar dapat diakses lebih sigap pada permintaan berikutnya. Hal tersebut dapat meningkatkan performa website dengan mengurangi beban pada server database. Berikut ini langkah-langkahnya:

  • Klik menu Performance => Object Cache.
  • Pada bagian Memcached hostname:port /IP:port, masukkan URL nan ditampilkan saat menjalankan Memcached sebelumnya. URL ini sama dengan nan digunakan untuk mengaktifkan Page Cache.
  • Klik tombol Test untuk memverifikasi koneksi.
  • Jika muncul pesan Test Passed dengan warna hijau, artinya Object Cache sukses diaktifkan.

8. Pengecekan memcached

Nah, terakhir, perlu mengecek apakah fitur memcached berjalan alias tidak dengan langkah-langkah berikut ini:

  • Buka situs WordPress kalian.
  • Klik kanan pada laman lampau pilih opsi View Page Source.
  • Scroll ke bagian bawah sumber halaman.
  • Akan terlihat info seperti pada gambar nan disertakan.

Jika memandang info tersebut pada sumber halaman, itu menandakan bahwa plugin W3 Total Cache nan terintegrasi dengan Memcached telah sukses diinstal dan berfaedah pada situs kalian, ya.

Simpulan 

Jadi, bisa disimpulkan bahwa W3 Total Cache adalah plugin caching terkenal untuk WordPress nan membantu meningkatkan keahlian dan mengoptimalkan website. 

Nah, plugin ini menggunakan teknik caching dengan langkah permintaan sumber daya ke server, seperti membikin salinan HTML statis, meminifikasi file CSS/JS, mengintegrasikan CDN, dan menyimpan hasil query database dalam cache agar dapat diakses lebih cepat.

Semoga berfaedah 🙂

Selengkapnya
Sumber Blog Jetorbit Indonesia
Blog Jetorbit Indonesia